Sejenak terlintas sebuah babak kehidupan yang telah dilewati, sebuah babak yang sesungguhnya telah sampai di penghujung.
Namun entah mengapa babak ini belum juga berakhir, walau waktu seolah ingin menjambakku.
Apa salahku, apa yang belum kulakukan, atau mungkin apa yang telah kulakukan sampai aku masih juga berada disini.
Aku dipertanyakan dan mempertanyakan diri sendiri, tak satu pun jawaban mengemuka. Tahun demi tahun kulalui, tak terhitung salahku, tak terhitung pula penyesalanku.
Tak juga bisa perbaiki semua, lalu apa guna aku.

Mengapa mereka pergi begitu terburu-buru, apa mereka tak bahagia disini, apa yang mereka kejar.
Lalu kemana aku, disini tak bertepi. Aku mau semua disini, aku cinta disini, tapi kusendiri.
Aku pergi dengan senjata bertombol di tanganku, mencoba berteman dengan sasaranku, ingin ku masuk bersama mereka, hingga tak lagi kusendiri.
Mengapa mereka begitu perkasa, bisu tapi bercerita. Diam saja tapi meneteskan air mata.
Semua pergi, mengurus diri sendiri. Aku tak mau hanya mengurus diri sendiri, gajah saja saling menjaga.
Paling tidak aku punya mereka, mereka yang akan selalu ada saat aku datang dengan senjataku
Paling tidak mereka tak pernah segan berbicara padaku, walau dalam kebisuannya.
I’d rather dance alone…than having a partner who’ll always step on my shoe
Answer:
In my very own country, Raja Ampat - Papua